[CHAPTER-4] | RAIN DROP | SooShin | Fanfiction

Chapter 4

‘Aku melihatmu seperti hujan, tidak bisa di tebak , terkadang kedatangan nya membuat kesal tapi akan berakhir menyenangkan setelah muncul sebuah pelangi’

Main Cast :
Kim Soo Hyun as Song Sam Dong
Im Yoona as Kim Yoon Hee
Park Shin hye as Cha eun sang
Ok taecyeon as Lee goon wo

other cast :
Suzy As Jang ma ri
Eun Jung t-ara As Hyun Baek hee

Genre : drama , comfort sad? maybe!
ini real imajinasi saya! maap jika masih bayak kesalahan saya masih banyak belajar menulis sebuah ff .
Happy reading all 🙂

Bunyi yang nyaring di tambah sebuah getaran membuyarkan semua konsentrasi gadis itu. Dia terpaku, detak jantungnya mendadak tidak bisa di kendalikan, seperti mendapatkan sebuah suara menggelegar keras membuat ingatannya perlahan pecah, dan buku sejarah yang dia hapal selama lima belas menitpun berakhir sia-sia. Gadis itu menatap aneh, tas berwarna cream di hadapanya. Dia bingung bagaimana bisa ada bunyi ponsel di dalam tasnya, setau gadis itu dia tidak membawa ponsel hari ini, bahkan suara dering ponselnya pun terasa asing seperti bukan milik ponselnya. Beberapa pertanyaan terus berputar mengelilingi otak gadis itu, rasa bingung terus menusuk-nusuk dirinya, seiring berjalannya waktu pertanyaan-pertanyaan membingungkan itupun akhirnya satu persatu menemukan jawabanya. Diapun sadar ada kekeliruan di dalam ruang kelasnya.

Chaeunsang terdiam tidak tau harus menjelaskan apa, saat di lihatnya semua murid dalam ruangan kelas itu sudah memperhatikannya, termasuk songsaengnim jung beserta dua gadis yang tersenyum bengis kearahnya. Guru jung sesaat mematikan sambungan telpon yang terhubung ke ponsel jangmari, untuk membuktikan bahwa pendengaran nya tidak salah kali ini, kemudian guru sejarah itu menyambungkannya lagi dan ternyata benar suara itu ada di sekitar ruang kelasnya, lebih tepatnya di mana chaeunsang terduduk sekarang ini.

Jantung Chaeunsang berdetak dua kali lebih cepat seperti habis lari maraton dalam waktu beberapa menit. Keringat dingin mulai bermunculan di sekitar pelipis dan lehernya. Lidahnya bahkan seperti mengeras seakan susah untuk menjelaskan bahwa ini tidak seperti yang mereka pikirkan.

Sampai,

“Kenapa kau mencurinya Chaeunsang?” Suara jung songsaengnim mengintrupsi, begitu dekat. membuat gadis itu kaget dan tak sadar wanita itu sudah berada di samping mejanya.

Chaeunsang tergugup. dia lihat wajah guru jung seakan menunggu jawaban. gadis itu merasa bingung untuk menjelaskan bahkan dia sendiri tidak mengerti kenapa ponsel itu bisa ada di dalam tasnya “A-an-no a-aku bahkan tidak tahu kenapa ponsel itu ada di dalam tasku”

“Apa kau mencoba mengelak? bahkan kau sudah terbukti mencuri, chaeunsang!” Kini giliran baekhee yang memberi komentar dengan gaya angkuh bak seorang putri raja yang sedang memarahi pelayan istana yang lalai.

“Aku tidak mencurinya, aku berani bersumpah jung songsaengnim” Chaeunsang bersikukuh, suaranya bergetar dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

baekhee kembali bertindak dia menggeladah isi tas chaeunsang dan mengambil barang bukti yang menjadi perseteruan dalam ruang kelas itu.
“Apa ponsel ini belum cukup membuktikan kalau kau seorang pencuri?” Gadis itu berteriak disertai ponsel yang sengaja dia acungkan ke udara seakan-akan ingin memberi tahu pada seluruh murid jika chaeunsang memang seoarang pencuri.

Tangisan chaeunsangpun pecah. Gadis itu menatap baekhee dengan linangan air mata. bibirnya terus bergetar masih berusaha menyampaikan sesuatu hal yang menurutnya benar, meskipun tidak ada satupun yang percaya padanya.
“Aku tidak tau kenapa ponsel itu ada di dalam tasku, mari-ahh aku tidak mencurinya, aku bersumpah tidak mencurinya” ucapnya di tengah isakan isakan penuh penekanan.

Jangmari yang tadinya hanya diam saja, kini mulai mengeluarkan suaranya sambil melipatkan kedua tangannya di depan dada “Jika kau menginginkan ponselku, kau tidak seharusnya mencuri! aku bahkan bisa membelikan mu ponsel yang baru, aku tau kau tidak mampu membeli sebuah ponsel mahal chaeunsang! Kau tau, apa hukuman yang pantas bagi seorang pencuri? JERUJI BESI!”

Deg! jantung chaeunsang perlahan mengurangi temponya, seperti semuanya akan berakhir hari ini. air mata yang mengalir itupun tidak lagi keluar, matanya seakan lelah dan siap menerima semua keputusan jangmari. bibirnyapun kembali membisu dia memang tidak bersalah tapi chaeunsang tidak punya kekuatan untuk sekedar membela dirinya sendiri. Gadis itu perlahan tertunduk dan satu dua isakanpun kembali keluar dari bibir kecilnya.

Jung songsaengnim merasa iba, ada rasa haru yang terlintas di dalam hatinya. wanita bersetelan formal itu tidak tau harus membela pada siapa, di satu sisi dia merasa kasihan pada chaeunsang dan di sisi lain rasa kasihannya tidak akan menyelesaikan masalah ini berakhir begitu cepat. Dia sendiripun masih tidak mengerti atas dasar apa gadis baik seperti chaeunsang mencuri sebuah ponsel, apa gadis itu memerlukan uang?
“Kau tidak mau memaafkan chaeunsang, jangmari? aku tau dia bersalah, tapi apakah kau tidak mau memaafkannya?” Dengan kewibawaan seorang guru muda yang dewasa akhirnya jung songsaengnim mengambil sebuah keputusan, meskipun dia tidak tau semua ini akan berhasil atau tidak. Jung songsaengnim tau jangmari memiliki sifat keras, jika dia sudah mengambil sebuah keputusan makan keputusan itu akan berakhir seperti itu, tidak bisa di ganti begitu saja. Tapi jung songsaengnim yakin di balik sikap kerasnya jangmari, gadis itu meliki rasa peduli dan bagaimanapun gadis itu sebelumnya tidak pernah memiliki masalah yang serius dengan chaeunsang.

“Apa kau berpihak pada seorang pencuri, jung songsaengnim? bagaimanpun juga pencuri tidak bisa di maafkan, kau mau jika suatu hari nanti semua ini terjadi lagi? buat apa ada hukum di negara ini jika seorang pencuri harus di maafkan!!” Baekhee terlihat tidak terima dia berusaha mempengaruhi jangmari agar gadis itu tidak terbawa omongan jung songsaengnim yang seakan terdengar menyesatkan di telinganya.

“Iya benar!” Satu orang siswa terdengar menyetujui.
“Aku setuju, bagaimana kalau semua ini terjadi lagi” yang lain kembali menimpali.
“Yeaah, bagaimanapun juga chaeunsang bersalah dan dia harus menerima semua hukuman yang di berikan jangmari” semakin banyak murid lain yang berkomentar, sampai suasana kelas itu menjadi riuh karena semua siswa ikut memprotes akibat tidak menyetujui keputusan sebelah pihak jung songsaenim.

Baekhee tersenyum menyindir dia merasa puas, terlebih melihat chaeunsang yang masih menenggelamkan kepalanya menyembunyikan semua rasa sakitnya hari ini. ‘Dia sudah seperti seekor kancil yang di mangsa harimau, tidak bisa berkutik.hahaha’ bisiknya pada gadis di sebelahnya. jangmari hanya berdesis jauh didasar hatinya di bahagia, inilah yang dia tunggu selama ini. Membuat gadis seperti chaeunsang hanya menangis tidak bisa melakukan apapun, bahkan meminta tolong sang pangeranpun chaeunsang tidak sanggup. Sungguh malang!

Sampai,
“Semua tenang! aku tidak mau keributan di kelas ini mengganggu kelas yang lain” Suara jung songsaengnim kembali membuat jangmari harus menyembunyikan rasa sebal pada chaeunsang untuk sementara waktu, bagaimapun juga dia tidak mau image gadis pemaafnya rusak hanya karena masalah seperti ini “Aku tidak membela siapapun, disini chaeunsang memang bersalah tapi kita tidak bisa menuduh dia seorang pencuri. Apa kalian lihat, chaeunsang mengambil ponsel itu di dalam tas jangmari?” semua siswa terdiam tidak ada lagi yang mengeluarkan suaranya bahkan mereka enggan menjawab prrtanyaan guru jung “Tidak! biarkan jangmari yang memberi keputusan”

Jangmari tersenyum lembut pada guru jung, dia perlahan berjalan agar lebih mendekat pada chaeunsang. Gadis itu menyentuh tangan chaeunsang membuat chaeunsang yang tadinya hanya tertunduk kembali memperlihatkan wajah basahnya. Chaeunsang tidak mengerti apa yang akan di lakukan jangmari namun gadis itu menyuruh chaeunsang berdiri dan sepersekian detik langsung memeluk tubuh chaeunsang. Membuat chaeunsang semakin bingung di buatnya bahkan semua orang di dalam ruang kelas itu juga ikut bingung, apa yang akan di lakukan jangmari pada chaeunsang?

“Aku memaafkanmu chaeunsang, yang dikatakan guru jung benar kau tidak semuanya bersalah, lagian ini hanya sebuah ponsel tidak perlu terlalu di ributkan” ucap jangmari di tengah pelukannya “Maafkan aku karena terlalu memojokanmu!” Lanjutnya lagi, membuat sebagian siswa shok  bahkan baeheepun jauh lebih shok. apa dia tidak salah lihat? kenapa jangmari berubah pikiran begitu cepat?

Hanya guru jung yang terlihat tersenyum melihat semua ini. Dia sudah tau jika jangmari tidak dapat di pengaruhi siapapun dan dia memiliki lebih besar hati yang baik dari pada egonya sendiri. bukankan damai itu jauh lebih indah?

Tangisan chaeunsang perlahan berhenti, dia berharaf ini semua bukanlah mimpi. pikiran-pikiran buruk yang sempat ada dalam benaknya ternyata salah jangmari bukanlah gadis yang jahat, yang selama ini chaeunsang pikirkan. Chaeunsang senang bukan kepalang ternyata di dunia ini memang benar adanya malaikat tanpa sayap itu, Yeah! bagi chaeunsang jangmari lebih dari seorang malaikat selain dia cantik dia juga memiliki hati yang baik.

Namun, kesenangan chaeunsang perlahan luntur. Saat guru jung kembali ketempat duduknya dan semua siswa hendak melupakan semuanya, Jangmari berbisik disaat yang lain kembali berfokus pada pelajaran sejarah yang tengah mereka persiapkan “Kau jangan senang dulu chaeunsang, kau pikir aku akan memaafkanmu begitu saja? kau tau, siapa yang menaruh ponsel itu di dalam tasmu? aku! haha aku tidak akan menaruhnya hanya untuk semua ini. Dengar chaeunsang, ini semua teguran untukmu, jika kau masih berani menjalin hubungan dengan songsamdong. aku pastikan, kau akan mendapatkan masalah yang lebih dari ini semua!” Ucapnya ketus di sertai kakinya yang perlahan menjauhi chaeunsang,tubuh chaeunsangpun di buat ambruk pada tempat duduknya, perkataan jangmari sungguh membuat badannya seakan-akan kehilangan kekuatanya. Oh tuhan apa yang dia rencanakan sebenarnya?

“Baiklah kita mulai pelajaran kita hari ini,”

  “Samdong-ahh, di bioskop ada film romantis terbaru, oppaku bilang film ini sangat sayang jika kita melewatkannya” Songsamdong terdiam sejenenak, dia membuka satu earphone yang menutupi telingannya. Kemudian pria itu memperhatikan gadis cantik di sebelahnya dengan tatapan yang sangat sulit di artikan. Samdong tampak bingung lelaki ini tidak tau harus berekpresi bagaimana untuk menanggapinya, bahkan dia tidak mengerti maksud dari perkataan gadis ini yang tiba-tiba saja datang, duduk di sebelahnya dan mengganggu aktivitas yang samdong lakukan.

“Wae? apa kau mau mengajakku berkencan?” ucapnya terdengar datar bahkan langsung to the poin.

Gadis berwarna rambut merah bata itu sedikit tersenyum, ada rasa menggelitik di dalam hatinya membuat kedua pipinya bersemu merah meski terlihat samar. Dia mengaitkan sebelah rambutnya ke belakang telinga, dengan senyuman bak  seorang bidadari dari kayangan yang bisa membuat semua siswa lelaki pingsan saat melihatnya. Gadis itupun mengangguk di sertai bibirnya yang kembali berkata “Aku memiliki dua tiket ini, tapi aku tidak tau harus mengajak siapa, kurasa kau lelaki yang tepat” Dengan nada suara yang sengaja di perlembut.

Perhatian samdong sesaat beralih pada tiket bioskop di tangan jangmari, kemudian pria itu kembali mengalihkan padangannya kearah lain “Kita lihat saja nanti” Ucapnya masih dengan suara datar,lelaki itupun kembali menyumbat telinganya dengan earphone yang tadi dia lepaskan.

Jangmari masih tersenyum, dia beranggapan ini awal yang baik dan samdong setidaknya mau berbicara padanya meski hanya beberapa kata “Kuharap ini adalah jawaban ‘iya’ aku menunggumu di pintu masuk bioskop sabtu sore jam 5, jangan lupa datang” Ucapnya semangat, kemudian gadis itu berlalu pergi dengan sebuah harapan besar dalam hatinya.

Samdong memperhatikan kepergian jangmari sampai gadis itu menghilang dan tergantikan dengan gadis lain yang kedatangannya telah samdong tunggu selama ini. lelaki itu tersenyum simpul lalu dia bangkit dari tempat duduknya untuk menghampiri gadis itu.

Namun, semuanya tidak seperti biasanya. Saat si gadis berkucir kuda itu melihat sosok samdong dia berbalik dan segera berlari mengganti arah. Membuat lelaki ini mengkerutkan kening. Aneh sekali! apa yang terjadi pada chaeunsang?

Chaeunsang menarik nafas panjang. Sungguh hari ini membuat gadis itu tidak tau kenapa seakan kehilangan banyak tenaga, Aneh! padahal hari ini tidak ada pelajaran yang membuat keringat chaeunsang terkuras. Kepala chaeunsang sedikit pening, bahkan dia tidak bisa menangkap satupun point penting yang di jelaskan jung songsaengnim sepanjang pelajaran. Dia beranggapan mungkin karena menangis terlalu lama sehingga menurunkan semua konsentrasinya, Untung pelajaran sejarah adalah pelajaran terakhirnya di hari jumat ini dan besok dua hari kedepan chaeunsang bisa bersantai menikmati weekend untuk sekedar menghilangkan semua penatnya. Mungkin berkebun bisa menjadi pilihan yang baik.

Semua murid sudah terlihat meninggalkan ruangan kelas, hanya tersisa chaeunsang dan kedua gadis populer, yang sedang merapikan penampilannya di meja paling depan sana. Sesaat ucapan jangmari kembali terngiang di telinga chaeunsang ‘Kau akan mendapat masalah lebih dari pada ini’ membuat gadis itu seakan mendapat tusukan seribu jarum di kepalanya, rupanya ini yang sedari tadi mengganggu pikiran chaeunsang. Diapun hanya bisa memijit kepalanya perlahan berharaf mengurangi rasa sakitnya, meskipun hanya sedikit.

“Mary-ahh, kau yakin akan mengajak songsamdong menonton?”

Chaeunsang mendadak berhenti dari aktivitas yang dia lakukan dia mencoba menajamkan telinganya semaksimal mungkin, dan berpura-pura tidak terlihat sedang menguping pembicaraan mereka.

“Mmhh.. aku sudah mendapatkan tiketnya”

Chaeunsang melihat oleh ujung matanya jang-mary mengeluarkan dua tiket berwarna putih dari dalam tasnya. Bagaimana bisa mereka membicarakan semua ini di depan chaeunsang sementara mereka tau jika chaeunsang memiliki hubungan lebih dari sekedar teman dengan songsamdong, dan mereka seakan tidak peduli dengan keberadaan chaeunsang. Gadis dengan rambut terkucir kuda itupun tertunduk, dia bukan gadis spesial bukan gadis yang di kenal banyak orang meskipun dia pacar songsamdong, lagian jika chaeunsang meminta samdong agar tidak pergi dengan jangmari lelaki itu akan marah dan berkata dengan sangat dingin ‘apa urusanmu’ meskipun chaeunsang adalah pacarnya sendiri.

“Kau tidak takut dia menolak tawaranmu?”
“Tidak!” Mereka berdiri dari tempat duduknya bersiap untuk pergi dari ruang kelas itu, sesaat jangmari melihat kearah chaeunsang yang masih terduduk di mejanya, gadis itupun hanya mampu berpura-pura membereskan buku-buku di atas mejanya tanpa mau menatap balik wajah jangmary “Jika seorang ulat jelek bisa mendapatkan sari dari bunga yang bagus kenapa kupu-kupu indah tidak bisa mendapatkannya juga?” Ucapnya terdengar menyindir beberapa saat kemudian tubuh merekapun menghilang dari dalam ruangan kelas itu.

Ulat jelek?
Yeah, benar! chaeunsang hanya ulat jelek yang kadang kedatangannya membuat jijik siapapun. Jangmary benar, samdong tidak cocok dengan chaeunsang dan sudah saatnya chaeunsang menjahui pria itu. Samdong juga perlu mendapatkan gadis yang lebih baik bukan?

Chaeunsangpun bangkit dari tempat duduknya saat dirasa semuanya sudah selesai. Dia berjalan dengan tenaga seadanya meskipun lelah dan pening masih sangat terasa. Gadis itu keluar dari dalam kelasnya, dari kejauhan chaeunsang sudah melihat jangmary seperti habis mengobrol dengan songsamdong , mungkin jangmary sedang membicarakan ajakan nontonnya tadi. Dan chaeunsangpun berusaha untuk tidak peduli dengan semua itu, dan berharaf samdong tidak melihat keberadaanya.

Namun sial harapan chaeunsang tidak terkabul. Saat jangmary pergi meninggalkan songsamdong, saat itulah lelaki itu melihat kearah dimana chaeunsang berdiri sekarang ini. Samdong bangkit dari tempat duduknya dia tersenyum pada chaeunsang dan hendak mendekat. tapi, entah apa yang dipikirkan chaeunsang tiba-tiba gadis itu berbalik dan berlari pergi menjauhi songsamdong.

….

Langit sudah terlihat mendung, perlahan rintik-rintik kecil itu bermunculan. Chaeunsang menengadah membiarkan setiap butiran air membasahi wajanyanya. Gadis itu perlahan menutup kedua matanya merasakan sensasi dingin dari sang hujan. Dan rintik kecilpun berubah menjadi hujan deras.

Disaat yang lain berlari untuk mencari tempat berteduh, chaeunsang terlihat lain. Dia membiarkan badannya basah oleh air hujan untuk hari ini.

‘Apa kau kasihan padaku songsamdong? aku bukan gadis cantik, bukan gadis populer, kenapa kau mendekatiku? apa karena kau kasihan padaku?’ Gumam chaeunsang dalam hati. Gadis itu masih menengadah dengan kedua mata terpejam. bibir tipisnya perlahan bergetar disusul oleh isakan-isakan kecil yang terdengar lirih. chaeunsang menangis, dia tidak peduli, orang-orang tidak akan tau jika dia sedang menangis.

Namun rintik hujan itu perlahan menghilang, chaeunsang membuka matanya dan sudah terlihat sebuah payung beserta lelaki yang menjadi pikirannya saat ini berdiri di hadapannya. Yeah samdong datang dengan tiba-tiba memayungi tubuh chaeunsang yang sudah basah kuyup.

“Kenapa kau ada di hadapaku?” pertanyaan konyol itu terucap begitu saja dari mulut chaeunsang.

Samdong terlihat berdesis, dia seakan malas hanya untuk menjawab pertanyaan tidak masuk akal itu “kau terlihat seperti orang gila chaeunsang!”

Mata chaeunsang kembali berkaca-kaca, gadis itupun kembali menangis untuk kesekian kalinya “Kalau aku seperti orang gila, kenapa kau mau mendekatiku songsamdong?” ujarnya dengan linangan air mata.

Samdong terlihat benar-benar malas menanggapi apapun yang chaeunsang katakan, gadis ini aneh. dan kekanakan! jika bukan karena kasihan dia tidak mau melakuakan semua ini.
“Tsk! itu bukan sebuah pertanyaan chaeunsang. baiklah jika kau masih mau disini dan membuat badanmu sakit, aku tidak akan menemanimu” ujarnya kesal kemudian dia kembali pergi meninggalkan chaeunsang, membuat tubuh gadis itu kembali terkena air hujan.

chaeunsang melihat kepergian songsamdong, ada rasa sakit yang tidak bisa di jelaskan. Rasa yang membuat hatinya sesak seperti terkurung dalam ruangan tanpa oksigen.
“AKU MEMBENCIMU SONGSAMDONG!” teriak chaeunsang di tengah hujan deras, gadis itu kemudian belari mengejar samdong dan memeluk pria itu dari belakang.

Tanpa chaeunsang sadari, seorang gadis lain memperhatikan mereka dari kejauhan matanya mengeluarkan percikan api.
“Oppa, aku butuh bantuanmu!” ucapnya dalam sambungan telpon.

#TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s