[Chapter-2] | GS | First Love | Super Junior | Fanfiction

 

Aku ingin menjadi seseorang yang tidak terlihat dan hanya orang – orang yang menyayangiku yang bisa melihatku.

KiHae AU, School-Life.

Rated: Fiction M – Indonesia – Romance/Drama – Kim Kibum, Lee Donghae – Chapter: 2

Disclaimer: Semua masih milik tuhan yang maha esa dan orang tua masing-masing.

Warning: OOC/Typos/Hurt/Abal.

Chapter 2 : When The Brief Happines It Has Actually Passed.

Happy Reading ^^

 

 

‘Umma… bagaimana rasanya bersekolah apa menyenangkan?’

‘Hmm.. Kau akan mendapatkan banyak sekali teman disana’

‘Jeongmal? ah.. jika seperti itu, aku ingin sekali cepat bersekolah umma!’

 

 

Kejadian itu begitu cepat, Bahkan begitu menggemparkan satu sekolah. Siang penuh keceriaan itu tergantikan dengan tragedi berdarah yang sangat tak terduga. Seorang gadis cilik tidak sengaja mendorong temannya, membuat kepala sang teman mengalami pendarahan yang cukup banyak dan harus berakhir masuk rumah sakit.

Komentar pedas, cemoohan, memojokan bahkan tak pelak juga menghina jelas terdengar dari mulut ke mulut, hingga tersebarnya berita tersebut sampai keluar sekolah. Begitu cepat semua orang tahu. begitu banyak orang-orang yang menyalahkan dirinya. dan begitu sulit cobaan yang dia jalani.

Anak sekecil itu?

Penderitaan itu?

Rupanya belum benar-benar berakhir. Semua ini masih awal, bahkan hidupnya masih begitu panjang. tapi, apakah masih mungkin di saat masa sulit seperti sekarang, orang-orang akan mempercayainya? kenapa tuhan seakan tega memberikan cobaan pada anak sekecil itu.

Air mata yang terbendung. Isakan yang tertahan. Hati yang tergores, seperti itulah yang dirasakannya saat ini. Gadis itu sebisa mungkin menulikan telinganya, tidak dia dengar mulut-mulut jahil didalam kelas itu yang saling menggunjing berbicara tentangnya. Orang-orang yang dia lihat berkumpul di ambang pintu. Untuk menyaksikan seperti apa kejadian sesungguhnya. Saling berbisik sambil memperhatikannya. Gadis kecil yang hanya menunduk di mejanya dengan air mata membanjiri kedua pipinya. Tangannya saling mencengkram erat, tubuhnya bergetar di tambah detak jantungnya berdekup sangat cepat. Nampak jelas bahwa gadis itu sangat ketakutan dengan pasang mata yang terus memperhatikannya.

‘Umma… bawa aku pergi!’

Gumamnya begitu tertahan. Seakan sesak, menelan ludahpun rasanya sangat sulit dia lakukan. Jika sebuah tembok mampu di tembus oleh tubuhnya Donghae sangat ingin pergi dari tempat ini melewati tembok yang menghalanginya. berlari ketempat lain, tempat dimana sang ibu berada sekarang.

 

Ruangan itu berjarak hanya beberapa meter dari kelas 1-Matahari. Tata ruang yang tidak ada perubahan memasuki pelajaran yang baru ini memang bukan sesuatu hal yang aneh. tapi, ada sebuah kejangalan di dalam sana. Ruangan itu mendadak pengap dan panasnya pun tak terkira. sepertinya semua fentilasy tertutup dengan tiba-tiba. bahkan alat pendinginpun nampaknya tidak bekerja.

Disana tercium bau keseriusan. menegangkan layaknya di dalam sebuah Film pembunuhan. Tiga wanita saling berdiskusi memperbincangkan kejadian tadi siang. untuk menemukan akhir solusi dari musibah ini. Satu wanita yang lebih bertanggung jawab mengurusi anak-anak di sekolah dan kedua wanita lainnya yang berada di hadapanya adalah wali dari kedua anak yang bersangkutan.

Namun disini semuanya tidak sesuai yang diinginkan. Seperti kata orang bijak ‘Tidak semuanya pikiran manusia itu sejalan’

Disinipun sama, satu dari keduanya lebih memilih menuruti keinginannya sendiri. ketimbang perdamaian yang di harafkan sang kepala sekolah.

“Jadi, Apa yang kau inginkan nyonya Han?” Sang kepala sekolah mencoba bertanya pada wanita dengan penampilan begitu mencolok. lipstik semerah darah serta pakaiannya yang amat sangat glamour. dia memiliki tahi lalat di sekitar bibir,  dengan keangkuhan yang seakan sudah mendarah daging wanita itu menyunggingkan satu ujung bibirnya di sertai satu tangannya yang sibuk mengipas-ngipasi wajahnya.

“Cukup mudah! keluarkan anak itu dari sekolah ini” Ujarnya santai seakan tidak mau peduli pada perasaan sang nenek di sebelahnya yang merasa tertusuk oleh ucapan wanita ini. Ia memandangi wajah wanita yang di sebut nyonya han itu dengan kedua mata sayunya, berharaf setiap yang di katakan wanita itu hanya sebuah candaan.

“Tidaak!” Sang nenek menggeleng, suaranya bergetar menyerukan ketidak setujuannya atas ucapan nyoya han. dengan mata yang sedikit berkaca-kaca dia mengalihkan perhatiannya pada wanita dengan penampilan sangat berwibawa, di hadapannya itu “Jangan terlalu cepat mengambil keputusan, disini belum terbukti semuanya kesalahan cucuku”

“Yak! Kim-ahjjuma. apa kau tuli eoh? apa kesaksian semua anak itu belum cukup? untuk membuktikan semua kesalahan PARK DONGHAE!” Seperti sebuah minyak bumi yang tersambar api, Nyonya han nampak tersulut bahkan emosinya naik dengan ketegangan tinggi. Dia tidak terima. Disini jelas kim halmoni mengajukan protes dan seakan ingin membalikan fakta yang ada. Dimana han tae hyun sang korban seperti ingin di jadikan olehnya tersangka utama. Yang jelas-jelas posisi itu adalah milik cucunya.

“Sabar…. nyonya han,” Sang kepala sekolah menengahi dia tidak mau juga terjadi keributan antar wali murid di dalam ruangannya ini. Bagaimanapun juga dia ikut bertanggung jawab atas semuanya, dan ini semua menyangkut refutasi sekolah yang tidak ingin tercoreng sedikitpun, “Kita harus menyelesaikannya dengan kepala dingin” Lanjutnya yang di sambut sebuah umpatan ‘Mengesalkan’ dari mulut nyonya han. Wanita itu mendelik, memalingkan wajahnya untuk tidak lagi melihat Kim-halmonni . Dengan satu tangan terlipat di depan dada dan tangannya yang lain kembali mengipas-ngipasi wajahnya.

Rasa cemas terus melanda hati kim-halmoni seakan rasa itu terus menggerogotinya, membuat dia bahkan tak bisa memikirkan yang lain. Hanya gadis kecil itu. Hanya donghae yang terus menghantui pikirannya. Kim-halmoni masih tidak menyangka, semua ini seperti ilusi seakan mustahil terjadi dalam kehidupannya. Dia bahkan masih mengingat betul wajah riang donghae tadi pagi menyambut hari pertama sekolahnya, meskipun rasa sedih atas di tinggalkan sang umma masih nampak tertanam, namun donghae menyembunyikannya sebisa mungkin. Kabar itu terdengar saat Kim-Halmoni saat itu tengah berbelanja di sebuah pasar untuk menyiapkan makan siang menyambut kepulangan donghae nanti. Namun semua niatnya seakan rontok kala berita itu menyapanya, dan diapun dengan segera pergi begitu mendapat telpon dari pihak sekolah, meninggalkan semua niat indah yang sudah dia rancang. Dan disinilah Kim-Halmoni sekarang. Di sebuah ruangan pribadi kepala sekolah, terduduk dihadapannya dengan sebuah meja menjadi penghalang di antara mereka.

Kim-Halmoni memang bukan sosok wanita yang suka memperbelitkan suatu masalah sehingga menjadi berlarut-larut dan semakin berbuntut panjang. Ia tidak pernah menginginkan kepuasan dimana sang rival, yang menjadi musuhnya dalam perdebatan ini terjerembab dalam jurang kesakitan, sekalipun itu pihaknya yang menjadi korban. Ia lebih memilih jalan damai yang di cintai tuhan dan bukankah itu termasuk perbuatan yang mulia?

Jika nyonya Han mampu berpikiran sama seperti yang dia pikirkan. Kim-halmoni akan jauh lebih bersyukur, meskipun kelihatannya hanya 0,1 % itu terjadi. Dengan jalan terakhir Kim-halmoni serahkan semua ini pada tuhan, biarkan dia yang mengatur Realita ini.

”Cucuku tidak akan mungkin melakukan itu semua!” Sebenarnya Kim-Halmoni tidak memiliki kepastian lebih atas ucapannya, ia hanya yakin jika donghaenya bukan anak yang tega mencelakai temannya. Seperti kata pepatah yang dia tahu ‘Tidak mungkin ada asap jika tidak ada api’ tidak mungkin ada yang memulai jika tidak ada yang mendahului.

“Aku… mengenal betul siapa Donghae,” Ucap Kim-Halmoni kembali memberi jeda, terlihat dia terlalu sulit untuk mengeluarkan kalimat selanjutnya. Tenggorokannya mendadak sakit, rasanya seperti terbakar perih dan sakit berkecamuk di dalam sana. Wanita renta itu menundukan kepalanya, jari jemarinya memainkan sebuah sapu tangan di bawah meja. Kedua kantung matanya perlahan penuh oleh kristal bening yang sebentar lagi akan meluncur bebas menuruni sang pipi. Suaranya pun melemah di sertai bibir yang bergetar “Dia tidak akan mungkin melakukan itu tanpa sebuah alasan” Lanjutnya memberi kesimpulan. lelehan bening pun keluar mengiringi ucapanya yang terakhir.

Sebuah senyuman simpul di berikan sang kepala sekolah. Senyuman akan syarat keterpaksaan dia tidak tahu harus berekspresi bagaimana saat dirinya terbawa suasana yang ada, dan hanya itulah yang mampu di lakukannya dengan sebuah kalimat singkat yang semoga saja bisa lebih menenangkan hati Kim-Halmoni.

  “Aku sangat paham apa yang kau rasakan ahjjuma, kita berdoa saja… semoga masalah ini berakhir dengan perdamaian”

Mendengarkan itu semua, bukanya tersanjung dan mengiyakan apa yang sang kepala sekolah katakan nyonya han malah terasa mual di dalam perutnya rasanya seperti ada sesuatu yang berputar-putar dan ingin sekali dia keluarkan melalui mulutnya.

Menggelikan! pintar sekali si nenek tua itu berakting, memaanfaatkan wajah melasnya untuk mendapat simpati dari sang kepala sekolah. Shit! dia ternyata lebih cerdik dari seekor kancil.

“Baiklah, aku akan menyetujui perdamaian yang kau harafkan!” Entah itu Kim-Halmoni ataupun sang kepala sekolah sama-sama menajamkan telinganya. Apa mereka tidak salah dengar? dari mana datangnya keajaiban itu sehingga membuat hati nyonya han yang sekeras batu akhirnya lunak. bukannya tadi wanita itu tetap kekeh pada pendiriannya yang ingin mengeluarkan donghae. ah semuanya tidak terlalu penting, yang jelas kim-halmoni bahagia mendengarnya. “Tapi… dengan satu syarat?”

Tuhaaaaaaan!

ternyata benar, udang selalu ada di balik batu. didunia ini mana ada yang gratis.

 

 

Tteoreojinda nunmuri ttuk ttuk ttuk…

Sarajinda useumi jeom jeom jeom……

 

 

Saat perairan di bumi menguap ke udara, karena panas matahari. Uap air kemudian menyerap terus ke atas menyatu dengan udara. Suhu yang semakin tinggi kemudian berubah menjadi butiran semakin banyak dan berkumpul membentuk awan. Awanpun berubah menjadi kelabu dan gelap, lalu suhu yang sangat dingin membuat butiran-butiran itu jatuh kebumi.

Hujan lebatpun datang. Jalanan kota mokpo yang tadinya kering terkena sinar terik matahari perlahan basah oleh ribuan air yang datang. Shindong sedikit merutuk dengan datangnya hujan yang tiba-tiba, padahal menurut ramalan cuaca yang dia baca tadi pagi, Hujan akan datang sekitar delapan jam lagi. Yeah! kira-kira medekati tengah malam nanti. Sebenarnya bukan karena badannya basah dia mengeluh seperti ini. Shindong sama sekali tidak pernah memperdulikan keadaannya. Dia hanya merasa kasihan pada anak gadis yang tengah menggigil di sebelahnya. Tahu begini tadi sebelum menjemputnya dia akan pulang terlebih dulu ke rumah membawa sebuah jas hujan, dengan begitu tubuh donghae akan jauh dari basah kuyup. Aaah! kemana lagi jaket yang sering shindong pake? kenapa hari ini mendadak hilang ditubuhnya. Memang efek itu selalu tidak baik. Shindongpun merasakannya terkena efek yang terlalu menghawatirkan donghae, pikirannya jadi sedikit berbeda dari biasanya. BLANK! dan hanya di penuhi nama anak itu.

Salahkan saja pesan singkat yang dikirim Kim-Halmoni yang seakan membuat jantung Shindong merosot ke bagian perutnya, dan dia tanpa banyak ba bi bu lagi langsung pergi dari tempat bekerjanya. Yeah! sedikit meminta izin pada sang atasan sih!.

‘Donghae mencelakai kepala teman sekolahnya, jemput dia sekarang juga biar aku yang menyelesaikan masalahnya’

Sedikit tidak percaya. donghae? keponakannya?  Anak cengeng itu… dia tidak akan mungkin melakukan sebuah kekerasan. Shindongpun dengan tenaga yang dia miliki mengayuh sepeda bobroknya sangat cepat berharaf tidak terjadi apa-apa pada anak gadis yang dia sayangi itu. Doanya pun terkabul tidak ada luka lecet atau lebam di tubuh donghae, hanya bengkak karena air mata di sekitar kantung matanya yang jelas ketara.

Tidak ada satu percakapanpun yang keluar menemani perjalanan mereka. Bahkan saat sekarang mereka tengah berteduh di sebuah halte bus pun tetap hening, hanya suara riuh hujan yang melanda. Menurut shidong bukan saatnya dia mempertanyakan masalah yang barusaja di alami donghae, dia hanya perlu diam dan terus di sampingnya. Karena seorang teman yang saat ini di butuhkan anak itu. Mungkin jika waktunya sudah tiba donghaepun akan bercerita dengan sendirinya.

“Nanti saat tiba di rumah aku akan buatkan ramen yang enak untukmu.” Sedikit mengusir keheningan yang melanda, akhirnya shindongpun bersuara. Selebihnya dia hanya ingin melihat senyuman simpul dari bibir anak ini.

Donghae tidak bergeming, dia hanya tertunduk sembari memainkan satu kakinya di atas kerasnya jalanan halte yang tengah dia pijaki. Bahkan gumaman ‘Hmm‘ yang di harafkan shindong untuk menyetujui ucapannya pun tidak terdengar. Dan malah sebuah pertanyaan yang donghae keluarkan.

Ahjjussi, apa aku termasuk anak yang menyedihkan?”

“MWO?” Jelas shidong kaget, dari mana donghae tahu kalimat macam itu. Dia lihat wajah donghae yang kini memandangnya penuh linangan air mata. Bibir pucatnya bergetar disertai isakan yang keluar tanpa terkontrol.

“Mereka semua mengatakan seperti itu, karena aku tidak memiliki kedua orang tua.” Donghae berusaha mengeluarkan semua yang membelenggu hatinya, meskipun pada kenyataannya itu jauh lebih sulit dari apa yang di bayangkan. Luka yang kini di rasakannya memang tak sesuai seperti yang sang umma katakan semasa hidupnya.

‘Tuhan tidak akan tega memberikan rasa sakit yang terlalu menyakitkan, dan yakinlah setiap rasa sakit itu pasti ada obatnya. Karena tuhan tau dengan di berikannya rasa sakit manusia akan jauh lebih mensyukuri kehidupannya’

Jika semua rasa sakit memang ada obatnya, lantas apa pereda rasa sakit yang di derita donghae? apa di atas sana ada sesuatu hal yang sedang tuhan rencanakan.

Besi tajam nan panas itu seperti di tusukan dengan paksa kedalam uluh hati Shindong, menembus dan melewati sampai pada bagian punggungnya. Rasa sakit yang di rasakan donghae saat ini, entah kenapa seakan terbagi, berpindah ke tubuhnya. dan Shindong dapat merasakan luka yang teramat sangat menyakitkan itu. Sampai air hujan yang menyiprat ke matanya di atas asbespun serasa asing, seperti terkena kandungan asam sulfurik yang membuat mata Shindong perih sehingga membuat dia ingin menangis sekarang. Kaki pria bertubuh tambun itupun perlahan bergeser. Iapun berlutut di hadapan anak itu, dan segera memeluk tubuh kecilnya dengan sangat erat. Dapat shindong rasakan detak cepat jantung donghae, tubuhnya yang menggigil dan isakan perih yang mengalun dibibir tipisnya. Salahkah jika Shindong ikut menangis saat ini?

“Tuhan menciptakan kesedihan untuk sebuah kebahagian yang akan mereka rasakan. Anggap semua kesedihan ini adalah timbal balik dari kebahagian yang sedang menunggumu donghae-ya. Jangan dengarkan setiap hinaan orang lain, anggaplah semua itu adalah sebuah pujian yang tertunda.” Di tengah hujan deras ini. Di tengah halte yang begitu sepi. Di tengah dingin yang merasuki. Di tengah pelukan Shindong yang semakin mengerat. Donghae akhirnya tersadar ‘Jika satu malaikat pergi, maka ada malaikat lain yang menemani. Dan tuhan, ternyata tidak sekejam yang dia pikirkan!’

Terima kasih karena masih menciptakan orang-orang baik untuknya.

“Aku dengar anakmu menikah dengan penyanyi tampan itu, ahjjuma”

 “Mwo?”

 “ahh.. maksudku, kim jong won”

 “Oh nde”

 “Aku sudah lama mengidolakan nya, kau tidak keberatan bukan jika menyampaikan salamku padanya? dan ini… tolong berikan kaos ini pada menantumu, aku ingin meminta tanda tangannya di sana!”

 “Apa ini syarat yang kau inginkan tadi nyonya han?”

 “Hehehe… Nde ahjjuma”

 “Lantas anakmu?”

 “Lupakan saja, anggap saja bukan donghae yang melakukannya”

 

 

Sembilan Tahun Kemudian~

Incheon International Airport, 08:30 AM

 

Suara Roda koper tergeret beradu dengan sepanjang lantai bandara. Kedua bola mata yang tertutupi sebuah kaca mata hitam, bergerak dengan lincahnya yang tersembunyi di balik benda gelap itu. Seorang pemuda tampan dengan posture tubuh yang cukup ideal menghentikan langkahnya di tengah keramaian yang melanda, ia memperhatikan sekelilingnya. Bidik matanya tak henti mencari-cari seseorang yang di rasanya kenal.

Sampai, tarikan simple dikedua ujung bibirnya terpatri saat mata pemuda itu melihat sosok gadis mungil dengan rambut yang terkepang dua. Gadis itu membawa sebuah tulisan Hangeul sederhana ‘Selamat Datang Oppa’ yang dia angkat tinggi-tinggi di kedua tangannya. Sungguh konyol itulah yang terlintas di dalam benak pemuda ini. Ia tidak lupa bagaimana wajah adiknya meskipun sang adik tidak membawa tulisan cacat itu sekalipun.

Satu demi satu langkah itu mengurangi mengeliminasi jarak yang semakin menipis. Ada rasa bahagia di hati gadis kecil itu saat dia kembali melihat wajah sang kakak yang sejak lama tak di lihatnya. Desiran halus di dalam hatinya muncul perlahan berubah menjadi sebuah letupan kebagian yang tak terkirakan. Ia bahkan tidak menyangka pemuda yang kini tengah tersenyum padanya amat sangat tampan jauh dari perkiraannya, sang kakak kini lebih mirip seorang bintang dalam serial drama yang sering dia tonton. Iapun membalas senyuman pemuda itu di sertai tangannya yang perlahan menurunkan tulisannya.

“Apa kau sedang menunggu lelaki super tampan yang datang dari amerika?” Ucap pemuda itu dengan suara berat yang khas, dan bahkan sekarang mulai sedikit berubah. Ia membuka kaca mata hitamnya, sungguh begitu tampan! Di tambah senyuman menawan itu tak hilang dari bibirnya. Semakin menambah nilai plus yang ada.

Gadis berkepang dua dihadapanya semakin tersenyum lebar, lelaki ini benar-benar tidak berubah. Dia masih pede setingkat dewa, masih tampan seperti dulu dan tubuhnya juga semakin menjulang tinggi. Apa dia setiap hari memakan bambu di amerika?

“Aku kira kau lupa dengan negaramu, oppa” ucapnya terdengar menyindir.

Yeah! Memang gadis itu sengaja berkata demikian, mengingat sang oppa sangat lama tinggal di amerika. Dan seakan enggan untuk kembali ke korea. Sementara saehee? Atau lebih tepatnya gadis kecil berkepang dua itu, hanya tinggal sebentar disana. Itupun dia lupa lupa ingat dengan kenangan yang pernah terjadi. Karena pada saat itu saehee baru menginjak umur tiga tahun, dan harus kembali ke korea. Sementara pemuda itu? Menolak untuk kembali. Dia bilang kalau dia akan tetap tinggal, dan saat waktunya sudah tiba pemuda itu akan kembali dengan sendirinya. Dan akhirnya disinlah dia sekarang, setelah hampir sepuluh tahun pemuda itu tinggal di amerika.

Pemuda itu kembali tersenyum dibuatnya. Kali ini menampilkan deretan giginya yang rapi. “Kau tidak mau memeluk opp...”

BRUUKK! Belum sempat dia menyelesaikan apa yang hendak dia katakan.Gadis itu sudah menerjang tubuhnya, memeluknya dengan sangat erat. Membuat pria itu mampu menghirup wangi strawberry dari rambutnya.

“Aku merindukanmu oppa,” ucapnya tertahan.

Dan pemuda itu? hanya bergumam mengiyakan.

 

 

“Kenapa Umma tidak menjemputku di bandara, dan malah menunggu di dalam mobil?“ Tanya seorang pemuda pada wanita yang tengah fokus menyetir. Wanita itu acuh dia tidak sama sekali tertarik bahkan berniat menjawab apa yang pemuda itu tanyakan. Matanya tetap fokus pada jalanan di hadapannya. Ia tidak sedikitpun menoleh pada pria yang tengah menunggu jawaban di sampingnya itu.

Memang sedikit aneh bagi pemuda itu, sang Umma biasanya cerewet, kini wanita itu bagaikan gadis pendiam yang baru melakukan dating pertama kalinya. Membisu dan tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya. Bahkan semenjak pemuda itu datang ke korea, wanita itu tidak melakukan hal-hal yang biasanya mereka lakukan saat bertemu. Semisal pelukan hangat ataupun ciuman kasih sayang akan syarat kerinduan. Apa sang umma tidak senang dia kembali?

Alih-alih mendapat jawaban, pemuda itu malah mendapat jitakan keras di kepalanya. Dan lagi? Dengan rem dadakan yang dibuat wanita itu membuat kepala bagian depan pemuda itu terbentur dasbore mobil.

YAK! UNTUK APA KAU KEMBALI BODOH!! AKU TIDAK MEMIKI ANAK SEPERTIMU!”

Pemuda itu meringis, mengusap-usap kepala bagian depannya berung kali. Membuat satu-satunya penumpang yang ada di kursi belakang terkikik geli menyaksikan pertikaian itu. Lucu menurut Kim saehee umma-nya tidak pernah semarah itu pada sang kakak.

Pemuda itu? Kim kibum, berhenti mengusap-usap kepalanya. Dia melihat sang Umma yang kini kembali enggan melihat kearahnya. Wanita itu kini lebih memilih menyaksikan mobil-mobil yang melintas lewat kaca samping. Dia terisak, ntah apa yang membuatnya sedih. Dan? Saehee yang tadinya terkikik, senyap seketika.

Suasanapun berubah menjadi serius. Kibumpun dapat merasakanya. Pemuda itu sedikit membenarkan posisi duduknya, saat di lihatnya sang umma? Kim heechul yang semakin terisak. Dia genggam tangan Heechul dengan perlahan, meskipun masih belum ada respon dari wanita itu.

Mianhae Umma, aku kembali untukmu, dan aku janji tidak akan jauh darimu lagi,”

Heechulpun akhirnya luluh, saat mendengar ungkapan maut dari sang putra. Wanita itu mengalihkan perhatiannya. Dan untuk pertama kali semenjak pertemuannya dengan Kibum hari ini. Rasa rindu itu begitu jelas terlihat dari sorot matanya. Heechulpun segera memeluk anak lelakinya dengan erat.

“Aku tidak akan memafkanmu, bodoh!” ucapnya sakartis dalam pelukan itu.

Kibum tersenyum  “Akupun tidak membutuhkannya”

Membuat heechul berdesis, dan kembali menjitak kepala sang putra. Saehee tersenyum, wajahnya menyembul dari balik kursi belakang untuk melihat kebahagiaan yang tengah mereka rasakan. Diapun ikut memeluk kedua orang yang tengah di madu kerinduan itu.

Namun? Semua itu harus berakhir saat dering ponsel heechul menggema. Dan sang umma harus menyudahi semua itu. Awalnya mereka tampak biasa saja, kibum beranggapan mungkin saja itu telpon dari sang Appa yang menyuruh heechul untuk secepatnya ke kantor karena dia tidak sabar ingin bertemu dengan pemuda ini. Tapi, nampaknya perkiraan Kibum salah, saat di dengarnya nada suara Heechul mulai berubah.

“MWO??”

 

 

 

Terakhir Kibum kemari sekitar sebelas tahun yang lalu, saat itu usianya baru menginjak tujuh tahun. Pemuda itu masih ingat sebelum dia tinggal di amerika, dia sempat tinggal di kota ini. pedesaan asri yang jauh dari hiruk pikuk ibu kota. Tempatnya sejuk dengan suasana pegunungan, dan juga hamparan laut yang indah.

Mokpo, kota ini cukup masuk daftar kenangan masa kecil yang tidak terlupakan bagi kibum. Dimana pemuda itu menikmati hal-hal yang tidak pernah dia lakukan selama di amerika sana. Dia sering bermain layang-layang, bola pantai sampai kulitnyapun menghitam. Dan satu hal kenangan yang tidak akan pernah kibum lupakan adalah saat dia bertemu gadis itu, gadis yang dia sendiripun lupa bagaimana wajahnya sekarang yang jelas ada hal manis yang membuat kibum mampu tersenyum kala mengingatnya.

Namun saat ini? bukan untuk mengulang hal manis kibum kembali ke mokpo. Melainkan hal yang kibum sendiripun tak mampu membayangkannya, kenapa semua ini terjadi saat hari pertama dia kembali lagi ke korea?

Yeah, dimana halmonnie tercinta harus berpulang, tanpa sempat kibum mengucapkan kerinduan yang mendalam padanya. Meskipun tidak banyak kenangan yang kibum lakukan dengan sang Halmonnie, namun kasih sayang halmonnienya mampu membuat kibum menangis, saat wanita itu di kebumikan.

Dan dari sekian banyak orang yang datang ke pemakaman itu, hanya satu sosok yang membuat kibum penasaran. Sosok yang menjauh dari kerumunan orang-orang. Kibum melihat gadis itu berdiri lumayan jauh dari area pemakaman. Dia memakai baju tradisional korea berwarna hitam, terlihat aneh ketambah lagi dengan wajahnya yang terus tertunduk. Namun saat mengetahui kibum memperhatikannya gadis itu pergi secepat kilat. Apa dia hantu?

Rasa penasaran kibumpun akhirnya terjawab. Saat dia tak sengaja bertemu dengan seorang gadis yang sedang bermain ayunan di area taman, dekat rumah sang Halmonnie. Awalnya dia mengira itu adalah hantu mengingat sekarang pukul sepuluh malam, dan tidak akan ada anak kecil yang bermain selarut ini. Kibumpun, dengan keberanian yang dia miliki melihat sosok seseorang yang sedang bermain ayunan itu. Berharaf itu adalah hantu sang nenek. Namun sungguh mengagetkan kala yang di lihatnya adalah gadis aneh berhanbok hitam yang dia lihat di area pemakaman itu.

“Apa kau manusia?”

#TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s