FF | Firts Love | Super Junior | Gs | Chapter 1

Cast:
~Lee Donghae
~Kim Ki bum
~Kim Ryewook And other!

Pairing:
Kihae? Or Kiwook?

Rated: T+

Genre: Hurt, Romance, angst, sad? (tidak yakin untuk yang terakhir)

Disclaimer: Ryewook milik kibum, Kibum milik Donghae, Donghae milik aku akkkk~ dan aku? Milik mereka bertiga #Maunya! Sementara kita dan chast yang lainnya milik tuhan yang maha esa.

Summary: Aku ingin menjadi seseorang yang tidak terlihat, dan hanya orang-orang yang menyayangiku yang bisa melihatku.(haha.. Pantaskah itu di sebut summary?abaykan!)

Warning: mianhae, kalau banyak typo, cerita pasaran, Dan yang jelas ini GS! Gasuka? Jangan baca! 😀

..Vee Kim-SooHyun..

Seperti sebuah peluru yang bersarang sempurna di dalam hati. Dan seperti sebuah batu besar yang menghimpit tepat di bagian dada. Sakit, sangat sakit sekaligus sesak mungkin yang di rasakan. Apakah memang separah itukan rasa sakitnya?

Di tengah langit senja, di mana cakrawala dilapisi oleh permadani jingga yang begitu indah. Seorang gadis mungil yang mungkin baru mengenal arti dari namanya kehidupan, harus menelan pil pahit di mana sebuah kenyataan bahwa sang umma, yang amat sangat di cintainya harus pergi, Pergi jauh untuk selamanya. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa berita duka ini akan terjadi bahkan usia gadis itu masih terbilang sangat kecil dan belum mampu mendepskrifsikan apa itu kematian?
Hatinya tertawa pahit, menghadapi kenyataan yang ingin sekali dia tepis jauh-jauh’Umma hanya tertidur, kan? Esok pagi, saat umma bangun umma akan tersenyum untukku’
Tapi…

Semua orang berpakaian hitam, menyaksikan peti mati itu terkubur oleh tanah. bibir mungil itu terbungkam rapat namun di kedua mata sendunya, mengalir buliran bening yang begitu deras. Tenggorokannya terasa tercekat, ini yang terakhir dia lihat wajah cantik itu, senyuman malaikat itu, dan tubuh sang umma yang akhirnya benar-benar hilang. Hanya tangan hangat dari seorang namja bertubuh tambun di sampingnya yang senantiasa memegangnya dengan sangat erat, seakan menenangkan dan mengisyaratkan bahwa gadis itu tidak sendiri, Masih ada dia? Yang akan selalu menjaganya.

Seandainya tuhan memberikan dia satu kesempatan untuk memutar waktu, biarkan dia kembali ke masa lalu di mana hanya ada kebahagian di sana. Walaupun tanpa seorang appa di sisinya, gadis itu masih bisa tersenyum bahagia karena ada dia? Sang umma yang seakan menjadi obat dikala dia sakit, sang umma yang rela membanting tulang demi menghidupinya, sang umma yang selalu memberikannya berpuluh-puluh kali lipat kebahagiaan dan satu-satunya sang umma yang memiliki senyuman malaikat.

Sampai…

Tangan mungil itu terlepas dari cengkraman tangan namja bertubuh tambun di sampingnya. Kedua kaki kecil itu berlari meninggal area pemakaman, menyisakan separuh orang yang menatapnya tak percaya termasuk namja bertubuh tambun itu. Dia, melihat nanar kesedihan di balik punggung
sang gadis yang semakin menjauh dan menghilang.

‘Aku berjanji untuk selalu bertahan hidup, akan tetapi asalkan umma selalu ada di sampingku’

Dan, disinilah gadis itu sekarang. Di tempat yang tidak terlalu besar namun menyimpan sejuta kenangan bersama ummanya.
Badan mungil itu terduduk di atas ranjang, dengan kedua kaki yang tertekuk dan kedua tangannya memegang bingkai berukuran kecil, dimana di dalamnya terdapat gambar seseorang yang sangat di sayanginya.

“Ini mimpi, ini semua hanya mimpi park donghae! Esok pagi semuanya akan kembali seperti semula”

Bagaikan hujan deras yang akan lama jika kita harus menunggunya sampai berhenti. Begitupun dengan air mata sang gadis kecil yang tak henti-henti menetes entah sudah berapa lama dia menangis?
Serpihan luka itu, terlalu menyakitkan memporak porandakan hati gadis kecil itu, yang jika di ibaratkan belum cukup umur jika harus mengenal luka sedalam ini. Usianya baru saja menginjak tujuh tahun seharunya dia selalu tersenyum menjalani masa kecilnya yang bahagia.

Hingga beberapa saat kemudia, tangisan itu terhenti tergantikan dengan sebuah isakan-isakan kecil, mata sendu yang seakan membengkak itu tertutup rapat, untuk membawa sang gadis kecil itu ke alam mimpi.
“Tidurlah cagiya. Disini masih ada halmoni dan shindong ahjjussi yang akan selalu menjagamu” ucap seorang wanita tua dengan sangat lembut. Di tariknya sebuah selimut untuk menutupi tubuh mungil yang kini terlihat tengah memeluk bingkai
Gambar sang umma. Wanita itupun pergi, serta sebelumnya tak lupa dia kecup kening sang gadis dengan penuh kasih sayang.

“Umma, apa yang kau inginkan di dunia ini?”
“mhh.. tidak melihatmu menangis, dan selalu melihatmu tersenyum bahagia, mungkin itu cukup. Dan, kau chagiya?” “bersama umma selamanya…”

Brakkk…
Tidak ada angin ataupun seseorang yang menyengolnya, dengan tiba-tiba sebuah buku yang tersusun rapi itu terjatuh, membuat seorang di dalam ruangan itu terlonjak kaget serta menatap aneh kearah buku yang terbelah dua menampakan sebuah foto yang tersembunyi didalamnya. Namja bertubuh tinggi itu berjalan menghampiri buku yang terbengkalai dilantai itu, dia berjongkok dan mengambil untuk menempatkan kembali buku itu ketempatnya. Namun sorot matanya tak sengaja menangkap sebuah foto yang terbalik, mungkin sudah cukup lama di simpan di dalam buku tersebut. Namja tinggi berparas tampan itu mengkerutkan kening, sebelum akhirnya dia ambil foto itu dan, matanya seakan membulat tak percaya setelah melihat siapa gerangan yang ada didalam foto tersebut.
”Leeteuk?” ucapnya yang lebih terdengar seperti gumaman. Entah kenapa setelahnya jantung itu seakan berdetak dua kali lebih cepat, bahkan bibir yang beberapa saat lalu terus menggerutu karena perkerjaan kini seakan terlihat mengukir senyum setelah melihat gadis cantik di dalam foto tersebut.
Hey, siapa sebenarnya gadis itu??

Seperti sedang mengenang masa lalunya, yunho namja itu malah semakin asik memperhatikan gadis bak bidadari di dalam foto itu, dia dengan santainya terduduk di kursi kerjanya sambil sesekali akan terlihat tersenyum, dan entahlah padahal tidak ada hal yang lucu. Dan dia, tidak sama sekali menonton video lucu. Lantas apa yang membuat dia bahagia, Apa gadis di dalam foto itu?

“bagaimana keadaanmu, Hmm..?? Aku sangat merindukan mu!”  Entah pada siapa dia bertanya, mungkinkah pada angin. Namun setelahnya bibir itu kembali berucap “maafkan aku!” dan, raut bahagiapun seakan menghilang tergantikan dengan raut penyesalan.
Yunho terdiam beberapa detik, kedua sikut itu bertumpu pada meja kerjanya, wajahnya dia sembunyikan di balik kedua telapak tangannya. Tidak ada lagi kata yang keluar dari mulutnya sekarang, dia lebih memilih sibuk dengan pemikirannya sendiri. Foto usang yang beberapa lalu sempat dia perhatikan kini sudah kembali terbengkalai di lantai.

Hanya hembusan nafas yang menemani, dan hanya detik jam yang megiringi di ruangan itu. Sunyi, hening, diam. Sesosok mahluk bernyawa itu sama sekali tidak bergerak masih menyembunyikan wajah di balik kedua telapak tangannya. Dia seperti menyesali perbuatannya di masa lalu. Sampai, suara Dering ponsel menggema, dan jelas saja mengagetkan yunho dari ketertegunannya. Tangan kekar namja itu meraih sebuah benda persegi panjang di atas meja kerjanya yang terus saja berbunyi. Dia lapnya secara kasar kedua matanya oleh punggung tangan sebelum dia mengangkat sebuah panggilan masuk itu. rupanya sedari tadi namja itu menangis.
“Yeoboseo?. Ne, sekarang appa pulang, kau ingin appa membelikan sesuatu sebelum appa sampai ke rumah?. Baiklah, tunggu appa wokkie-ah. Nado”

Yunhopun berdiri, diliriknya jam di pergelangan tanganya. Jam sembilan malam. Dia rapihkan meja kerjanya sebelum dia pergi meninggalkan ruangan itu, Namun seperti dejavu sorot matanya kembali tak sengaja melihat foto yang tersimpan indah di bawah meja kerjanya. Dia ambil foto itu  di pandanginya sesaat dan menyimpannya di laci meja kerja tersebut.
“aku masih mencintaimu teukie-ah” ucapnya lirih, sebelum akhirnya dia menghilang di balik pintu.

Dinginnya malam di musim gugur, dua orang dewasa berbeda gender itu, tengah terdiam serius di sebuah ruangan kecil yang beralaskan lantai kayu. Entah apa yang mereka lakukan, sedari tadi tidak ada yang ingin memulai pembicaraan. Selain seorang yeoja yang terlihat umurnya jauh lebih tua dari sang namja itu hanya menunduk, dan sesekali dia akan menghapus air matanya oleh sebuah sapu tangan yang tengah di genggamnya.
”hiks.. Aku akan membawa donghae untuk tinggal bersamaku hiks!” ucap wanita tua itu memecahkan keheningan. Wajahnya masih tertunduk, bukan karena dia takut melihat wajah namja bertubuh tambun di hadapannya. Tapi, wanita itu masih terbawa suasana dengan berita duka yang baru saja terjadi.

Shindong menggeleng, menatap sang yeoja tua. Di hati kecilnya pun ingin sekali dia ikut menangis bersamanya, namun entah kenapa saat ini air matanya sangat sulit untuk di keluarkan. Dia tau meskipun leeteuk bukanlah saudara kandungnya, namun dia sudah menganggap yeoja cantik yang belum genap 24 jam pergi itu, sebagai nonna nya. Terlebih shindong dan leeteuk sudah tinggal satu atap kurang lebih delapan tahun.
“molla imo, aku masih sanggup untuk menjaganya”

“aku tahu shindong-ah. Aku hanya ingin lebih dekat lagi dengan donghae, dia sudah ku anggap seperti cucuku sendiri”
Kim halmoni mendongkak, wajahnya kini menatap shindong walaupun penglihatannya sedikit buram karena air mata seakan tidak berhenti keluar dari matanya. Di tambah lampu di ruangan yang bisa di bilang sempit itu, sangat minim sekali cahaya atau bisa di bilang sedikit remang.

Shindong tersenyum mendengar ucapan kim halmoni demikian. Dia bersyukur sangat bersyukur walaupun donghae terbilang anak yang kurang beruntung, namun masih banyak orang yang menyayanginya. Rupanya tuhan benar tidak tidur, dia tahu siapa anak yang pantas mendapatkan kebahagian itu.
“Kau bisa dekat kapan saja dengannya imo!”

“hiks.. Hikss.. Kenapa tuhan seakan tega, menghukum anak tak berdosa seperti donghae, harusnya yang tuhan hukum itu dia, manusia bodoh yang tega menelantarkan istri dan anak berhati malaikat seperti mereka, kenapa shindong-ah? Hiks…”

Shindong menggeser duduknya kini dia lebih mendekat kepada kim halmoni, yang terlihat semakin histeris. Dia rengkuh tubuh sang yeoja tua yang sudah dia anggap umma nya sendiri, tangannya mengusap punggung sang halmoni agar lebih sedikit memberi ketenangan.
“sudahlah imo, tuhan pasti punya rencana lain. Kita berdoa saja semoga donghae kita selalu mendapat kebahagian”

Jdaaar!!

dengan tiba-tiba sebuah guntur, menggelegar walaupun tidak terlalu keras, membuat suasana di ruangan itu sunyi beberapa detik. Sebelum suara berat itu kembali mengintrupsi “Nampaknya malam ini akan turun hujan, apakah kau ingin menginap disini imo?”

Kim halmoni menggeleng dalam pelukan shindong “molla, kau pikir rumah ku sejauh menyebrang lautan?”
senyuman shindong kembali mengembang di lepaskan nya pelukan itu.
“aku hanya menawarkan chagi!!” ucapnya sedikit menggoda, membuat kim halmoni merengut tidak suka, “ish.. Dasar anak nakal”
Dan shindong masih tersenyum, dia mencoba mencairkan berita duka yang ada agar tidak terlalu berlarut larut.

Kim halmonipun bangkit dari duduknya, dia rapihkan baju yang sedikit kusut itu sebelum dia benar-benar pergi dari hadapan shindong.
“baiklah aku pulang, jaga donghaeku baik-baik, aku akan kembali esok pagi”

“Ne, apa perlu aku antar chagi?” kembali namja bertubuh tambun itu menggodanya.

“tidak perlu, aku tidak mau kau meninggalkan donghae sendirian”

Namja itu mengangguk, “hmm, hati-hati di jalan imo”

“Ne!” pintu geser itupun tertutup bersamaan dengan menghilangnya kim halmoni.

“HaHaHaHa!”
Sebuah lengkingan tawa sangat jelas terdengar di sebuah ruangan mewah bernuansa ceria. Ruangan itu bercatkan ungu yang di penuhi peralatan dengan warna senada, mulai dari tempat tidur, almari, gorden, hingga ke karpet.
“Kyahahaha, berhenti umma.. Jangan menggelitiki ku terus, ini geli.. Hahaha!”

Gadis kecil itu menggeliat kegelian, sementara tangan lentik sang umma dengan lihai menelusuri tiap titik sensitif di tubuh sang gadis. Membuat wanita dengan paras sangat cantik itu terus mematri senyum di bibir indahnya.
“kalau kau tidak mau tidur, umma akan terus menggelitiki mu!” Ucapnya dengan nada mengancam, namun tidak terlihat sama sekali menakutkan bagi sang gadis, karena wanita cantik itu masih memasang senyum indahnya. Munkin jika di ruangan itu banyak namja, mereka semua akan jatuh pingsan karena melihat seorang bidadari tersenyum dengan sangat indah.

“huh! Umma menyebalkan, sudah ku katakan bukan aku akan tidur jika appa sudah pulang!” Gadis itupun beranjak dari tidurnya, memasang wajah sok ngambek untuk meluluhkan hati sang umma, padahal apa? Sang umma akan tetap luluh jika dia tidak marah sekalipun.

Wanita itu, jaejung tersenyum, di peluknya tubuh sang anak tercinta untuk mengalirkan rasa kasih sayang lewat kehangatan tubuhnya. Dia cium pucuk kepala gadis mungil itu sebelum berkata “Umma hanya tidak mau kau bangun kesiangan wokkie-ah. Bukankah besok adalah hari pertama sekolah mu?”

Ryewook menggelengkan kepala nya di pelukan sang umma. “tidak akan umma!” setelahnya dia mendongkak dan mencium cepat pipi wanita itu “aku berjanji!”

Jaejung kembali tersenyum, Tak berapa lama kemudian, suara nyaring yang berasal dari depan rumahnya berbunyi. Seperti mendapat insting Seorang gadis yang masih berada dalam dekapannya segera bangkit turun dari ranjang king sizenya
“Hati-hati chagi, jangan terlalu terburu-buru” berlari secepat kilat menuju pintu depan rumah, tanpa memperdulikan perkataan jaejung sang umma yang tersenyum sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.

Dia menuruni, anak tangga dengan tergesa-gesa. Untung saja, tuhan masih menyayanginya sehingga dia menapaki kaki mungil di tangga terakhir dengan selamat. Mungkin kalau tidak, orang yang paling akan merasa bersalah adalah sang umma yang tidak bisa menjaga ryewook sang putri dengan baik.

Setelah seorang wanita paruh baya, yang di lansir bekerja di kediaman keluarga jung itu membuka pintu utama dan menapilkan sesosok namja tinggi nan tampan. Seorang gadis mungil yang tengah besiap menerjang tubuhnya tengah berdiri cantik tak jauh dari pintu
“APPA??” ucapnya melengking tajam, memang suaranya sedikit cempreng. Dia berlari dan langsung menghabur kepelukan sang appa tercinta.
“Ugh! Anak appa, kenapa belum tidur eoh?” ucap yunho lembut, di gendongnya tubuh sang putri yang lumayan cukup tambun itu, namun tidak membuat dia kwalahan untuk menggendong, baginya berat badan ryewook tidak seberapa.

Ryewook menenggelamkan kepalanya di dada bidang sang appa, dan tak lupa mengalungkan kedua tangannya di leher namja itu.
“aku ingin tidur di temani appa?”

“mhh… Baiklah, anak manja” yunho sedikit menggoda sang anak, meskipun sekarang kepalanya tengah penat, bahkan badannya pun sedikit drop namun dia tidak mau mengecewakan ryewook yang sekarang tengah membutuhkannya.

“Ryewook-ah, biarkan appamu mandi dulu eoh?” suara lembut yang sudah tidak asing bagi kedua sosok itu datang dari arah tangga, wanita cantik yang mampu membuat yunho terbuai meskipun dengan seyumnya sekalipun.

“Tidak mau umma,” ryewook merengek, membuat yunho serta jaejung harus mengalah untuk anak sedikit manjanya itu. Tangan jaejungpun terangkat mengacak lembut rambut ryewook.
“manja sekali eoh?” membuat si kepala keluarga tersenyum, inilah yang dia inginkan keharmonisan dalam keluarga. Disaat dirinya penat dengan pekerjaan kantor yang menumpuk senyuman dari dua orang tercinta yang mampu menghilangkan segala masalah yunho dengan seketika, sekaligus mampu menenangkan hatinya.
Benarkah seperti itu?

Tiga batang rokok nampak sudah dia hisap. Ditengah ruangan yang gelap hanya mendapat sedikit cahaya dari dalam ruangan lain yang nampak terang benderang. Sesosok itu hanya terdiam sambil menghisap rokok ketiga yang tengah dia habiskan, dipikirannya berkeliaran sesuatu hal yang dia sendiri tidak mengerti apa. Bahkan sosok itu masih tidak percaya bahwa semua ini akan terjadi padanya. Seorang mahluk manis yang tengah tertidur di ruangan lain kini adalah tanggung jawabnya. Bukan lagi seorang paman untuk dia melainkan dia akan menjadi ayah dan ibu untuk mahluk itu park donghae.
Suara guntur dan hujan deras seakan menemani di tengah malam yang semakin larut, sosok bertubuh gempal itu mematikan rokoknya dan bangkit untuk menuju sebuah alas di mana dia tidur selama ini.
“aku berjanji akan selalu menjaganya nonna!”

“Umma, ranjang ini terlalu sempit untuk kita berdua”
“tak apa chagiya, dengan ini umma bisa memelukmu sepanjang malam!”
“tapi.. Itu sesak umma”
“mhh.. Baiklah, umma tidak akan memelukmu lagi… Ishh… Aku hanya bercanda!!!”

“Umma… Jangan pergi,”
Leeteuk, membuka mata. Kedua mata yang selalu memancarkan kelembutan, Di setiap orang yang melihatnya.
“Umma,” ucap donghae seceria mungkin menyambut sang umma, walaupun di kedua matanya air mata semakin menganak sungai. Leeteuk tersenyum, di usapnya sesaat surai coklat donghae kemudian dia memejamkan matanya lagi, dan
pergi……

“UMMAAAAAAAA!”
Donghae terbangun dengan wajah penuh keringat. Jantungnya berdekup kencang, napasnya sangat cepat, serta dadanya naik turun seperti orang habis berlari jauh. pandangan gadis kecil itu mengedar memperhatikan sekeliling ruang kamar tersebut, tidak ada siapapun disana hanya ada dia seorang. Bahkan sang umma yang selalu di sampingnya pun sekarang tidak ada, ‘Jadi umma benar pergi?’ pikirnya dalam hati.

Kedua kaki mungil itu dia tekuk, dan memeluknya dengan sangat erat, dagunya dia tumpukan pada kedua lututnya. Sangat jelas terlihat bahwa gadis kecil itu ketakutan, bahkan tubuhnya bergetar di tambah dia menangis dengan tersedu-sedu.

Suara guntur yang sangat keras semakin mendominasi, menambah ketakutan sang gadis. Memang di luar hujan sangat deras seakan sang hujan tau bahwa hati sang gadis sedang terluka. Donghae melihat sesaat kearah jendela kamarnya dimana disana hanya ada gelap, serta sesekali terlihat semburat mengkilat yang di sebabkan oleh petir. Jika boleh jujur donghae benci keadaan seperti ini, benci suara guntur, benci cahaya mengkilat dari petir dan benci suara yang berasal dari langit. Jikalau masih ada sang umma mungkin sekarang dia tengah didekap dengan hangat di ranjang sempit itu dan memeluknya sampai sang matahari muncul di ufuk timur.

Namun, sepertinya itu akan menjadi sebuah hayalan bagi donghae sekarang. Karena sang umma sudah pergi jauh untuk selamanya.

Entah apa yang donghae pikirkan dengan tiba-tiba dia turun dari ranjang dan menelusuri tiap benda di dalam ruangan itu. Mulai dari membuka lemari, membuka laci-laci di meja nakas, namun sesuatu yang entah apa dia cari tidak di temukan. Sampai bidik matanya melihat kearah atas lemari, dan benda yang dicarinya ada di atas sana. Donghae tau tubuhnya tidak tinggi, dan dia tidak akan mungkin meraih benda di atas lemari itu menggunakan tangannya. Sehingga terpikirlah sebuah ide yang bisa di bilang gila, dia menguncang-guncang lemari itu sehingga membuat benda itu dengan berhasil jatuh tepat di sisi donghae, dia tersenyum namun tersenyum kecut.
“aku tidak akan membuatmu, basah karena air hujan umma,” Donghae segara berlari keluar ruangan, mengeser pintu itu sehingga membuat orang yang tengah tidur pulas diruangan lain terbangun. Walaupun kesadaran nya belum total di tambah ruangan yang gelap, namun shindong namja yang tengah tertidur tadi, tau siapa sosok yang tengah melintas di hadapannya.
”Donghae-ya kau mau kemana?” tanyanya, namun telat karena donghae sudah berlari menembus ribuan hujan di luar sana.

Shindong akhirnya bangkit untuk melihat sang gadis di ambang pintu dan kembali berteriak ”Donghae-ya?park donghae?” tapi tetap di hiraukan, dan gadis kecil itu semakin menjauh, menjauh dan menghilang.

Hujan sudah terlihat mereda, namun shindong namja yang kini tengah mengatur nafasnya belum juga menemukan gadis kecil itu. Sudah hampir seluruh penjuru tempat ini dia jelajahi dan, donghae–gadis kecil itu tak juga di temukan.
Namja bertubuh gempal itu mengacak kasar rambutnya, dia frustasi bahkan rasanya ingin sekali dia menghantam tubuhnya sendiri. shindong sungguh tak becus ini belum mencapai waktu satu hari, tapi dia tak bisa menjaga donghae dengan baik. Otaknya pun kembali berputar rasa bersalah seakan menghantuinya, sampai kedua kaki itu kembali melangkah ketempat satu-satunya yang belum dia kunjungi, tak peduli badannya sudah basah kuyup bahkan sekarang tulang-tulang di tubuhnya seakan tertancab ribuan jarum, ngilu serta sakit. Namun kembali shindong seakan tak peduli.

“hiks…hiks..Umma…”

Tubuh namja itu mematung, kedua matanya melotot bukan karena takut mendengar suara isakan – isakan itu tapi.. shindong syok melihat seorang gadis kecil tengah menangis pilu sambil memeluk batu nisan seseorang. Yah, sekarang dia ada di sebuah pemakaman umum. Matanya perih menyaksikan sesuatu hal di hadapanya itu, dan tidak terasa buliran bening yang sudah lama tidak keluar, membanjiri kedua pipinya.

“Umma.. Hisk..hiks!!”

Kembali suara yang sebenarnya tidak ingin shindong dengar terngiang di telinga nya, dia melangkah dengan perlahan mendekati sang gadis–donghae.

namun,
Brukkkk!

Kakinya melemas, dia seakan tidak kuat menahan bobot tubuhnya sendiri, shindong terjatuh tepat di samping gadis itu. Dia pandangi dengan lekat wajah donghae badan gadis itu menggigil, kedua mata cantiknya tertutup rapat, namun bibirnya tak henti-henti bergumam dan terisak.

“Donghae-ya?” ucapnya lembut sambil mengusap wajah malaikat donghae. Tapi, donghae tidak bergeming “Donghae-ya?” kembali shindong mencoba, kali ini dia sedikit mengguncang tubuh kecil donghae, tapi masih tetap tidak sama sekali ada respon dari donghae.

Sampai akhirnya shindong tersenyum tipis, rupanya donghae sedari tadi tertidur dan memang akan seperti ini, dia akan sulit di bangunkan jika sudah terlelap.

Shindong angkat badan mungil itu, untuk membawanya ke tempat yang lebih nyaman.
“aku akan menjaganya dengan lebih baik lagi,”

Suara seseorang tengah bersenandung indah memekakan telinga namja bertubuh tinggi itu. Dia terus berjalan di tempat serba putih dan hanya ada satu cahaya di tempat itu.

Cahaya yang berasal dari, entahlah namja itu tidak tau, terlalu silau dia melihatnya. Yang jelas suara yang dia dengar sekarang bersumber dari cahaya putih itu.

namja itu semakin mendekat kearah yang membuat hatinya penasaran, sekarang bahkan wujudnya jauh lebih nyata setelah melihatnya dari jarak dekat. Seorang gadis dengan gaun putih tulang dan rambut pirang bergelombang tengah memunggunginya. namja itu mengkerutkan kening bingung, siapa dia? Dan bahkan kenapa namja ini bisa tiba-tiba berada disini? aneh’ pikirnya.

Dia tepuk dengan pelan punggung gadis itu. Gadis itu berbalik menampakan wajah cantik yang membuat namja di hadapanya tercengang bahkan mulutnya menganga.
“kk-kau?”

“ahh, rupanya kau sudah datang!” ucap gadis itu lembut memamerkan senyuman malaikatnya “waeyo? kau kaget yunho-ah?” tanya nya ketika melihat respon yunho yang hanya diam saja memandangi wajahnya, dengan tatapan yang sangat sulit di artikan.

“N-ne, sedang apa kau disini? Bagaimana keadaan mu?”

Leeteuk, tersenyum memandangi namja tampan di hadapan nya. Dia tidak berubah masih cerewet seperti dulu, bahkan sekarang kecerewetan nya menurun pada donghae, anaknya.

“seperti yang kau lihat” lanjutnya “aku sedang menunggumu”

Yunho mengangkat satu alisnya, ini aneh, perasaan tadi dia tengah tertidur dengan jaejung sang istri di ranjang empuknya kenapa dia bisa ada disini dan bahkan bertemu seseorang di masa lalunya, pasti ini mimpi tidak salah lagi..

“menunggu?”

“Ne, aku mau meminta tolong padamu?”

“apa?”

“donghae! Tolong jaga dia,”

“dongahe? Siapa dia?”

Leteuk kembali tersenyum, dia usap dengan sayang kedua pipi yunho.
“dia anak kita,”

Deg!
Jantung yunho seakan pergi dari tempatnya ”anak?”

Leeteuk mengangguk masih dengan memasang senyumanya. Dan, dengan tiba-tiba namja itu langsung menerjang tubuh leeteuk memeluknya dengan sangat erat. Membuat keterkejutan mendadak di wajah leeteuk. “mianhae, sunguh maafkan aku. Teukie-ah!” ucapnya serak di sertai air mata yang turun dengan begitu cepat.

Gadis cantik itu, mengusap punggung yunho “ini semua sudah terjadi, aku sudah memaafkanmu! Waktuku sudah habis. Tolong jaga donghae”

“mwo?” yunho tidak mengerti apa maksud dari perkataan leeteuk? Waktu dia sudah habis? memangnya dia mau kemana?

Namun…
Perlahan, perlahan, dan perlahan.. Tubuh gadis yang tengah yunho dekap dengan erat menghilang ”selamat tinggal” ucapnya untuk terakhir kali.

“LEETEUKKKKKKKKK!” teriak yunho, terbangun dari mimpinya “mimpi?” pikirnya kemudian sedikit mengatur nafasnya dia mengedarkan padangan nya, melihat sekeliling ruangan besar itu dan, dengan tiba-tiba cahaya di ruangan itupun menyala menampilkan sesosok yeoja cantik yang sudah terbangun di sampingnya.

“kau bermimpi buruk yeobo?” tanyanya sambil menyodorkan segelas air putih yang dia ambil dari meja nakas dekat tempat tidurnya. Jaeujung mengusap punggung yunho yang sekarang tengah terengah-engah, buliran keringat keluar melalui pelipis dan lehernya.
‘apa arti dari mimpiku barusan?’ pikir yunho setelah dia meneguk habis minuman dalam gelas itu. Jaejung seakan bisa membaca apa yang suaminya pikirkan, diapun kembali berkata..
“sudah jangan melamun, itu hanya sebuah mimpi. Mendingan sekarang kita kembali tidur, ini masih jam tiga pagi.. Hmm!”

Yunho? Hanya mengangguk, mengiyakan.
“Donghae?” Gumamnya dalam hati sebelum akhirnya dia kembali terlelap melnjutkan tidur.

Burung-burung berkicau dengan riang nya di pagi hari ini, menyambut sang mentari pagi yang bersinar dengan indahnya untuk menerangi sebagian bumi.
Orang-orang sudah terlihat sibuk dengan aktivitas yang akan di jalaninya. Jalanan kota seoul pun terlihat mulai ramai ketika waktu sudah menunjukan pukul setengah tujuh pagi.

Di sebuah rumah mewah tepatnya di daerah gangnam, sebuah keluarga kecil tengah menikmati sarapanya paginya. seorang yeoja dengan rambut terkucir dua, terus saja berceloteh membuat kedua orang dewasa yang tidak jauh dari tempat dia duduk mengukir sebuah senyuman lebar.

“Jangan terlalu banyak bicara jika kau sedang makan. Cepat habiskan sarapanmu!” ucap seseorang dengan lembut membuat sang gadis kecil mengkrucutkan bibirnya imut. Gadis itu mengayun-ngayunkan kedua kaki mungilnya yang tidak menapak lantai, matanya mengerling sebal serta kedua tangan nya terlipat di depan dada, dan badan nya bersandar ke kursi membuat dia menghentikan acara makan paginya.

Seseorang di sebrang meja makan nya memberi kode pada dia? Yang duduk di sebelah gadis kecil itu. Mengerti dengan isyarat itu, jaejung yang sedari tadi tidak memperhatikan sang anak ryewook mulai mengalihkan pandangan nya pada gadis itu, dan benar saja, ryewook sudah bercemberut dengan lucunya.

“kenapa tidak di habiskan hmm?” tanya nya sambil mengusap lembut surai sang anak, ryewook menggeleng dan berkata dengan nada ketus “aku sudah kenyang!”

sesaat dia alihkan pandangan nya pada sepiring roti yang masih terlihat utuh sebelum jaejung kembali menatap ryewook “tapi makanan mu masih tersisa banyak?”

“Tapi aku sudah kenyang!” ucapnya sedikit dengan intonasi tinggi, matanya masih berfokus kedepan seperti enggan melihat wajah sang umma di samping nya.

“kajja appa, lebih baik kita berangkat sekarang saja?” lanjutnya, turun dari kursi. Dia berjalan dengan gontai menghampiri sang appa di sebrang meja makan nya dan menarik tangan namja itu dengan paksa membuat yunho dengan segera mengambil jas serta tas kerja di kursi samping dia duduk.
“sebentar ryewook-ah, kau tidak mau mencium pipi umma mu sebelum berangkat?”

Ryewook melihat jaejung dengan tatapan khas anak kecil ngambek, di sana wanita itu masih terlihat tersenyum dengan tulus “anni, aku marah pada umma!” ucapnya kembali menyilangkan kedua tangan nya di depan dada.

“hmm.. Tapi appa, belum mendapatkan morning kiss dari umma mu?” yunho, berkata dengan nada genit dan tak lupa mengedipkan satu matanya kepada jaejung membuat wanita di seberang sana bukan menghadiahi nya senyuman tapi sebuah pelototan yang seakan berbicara ‘ku bunuh kau!’

Sementara gadis kecil itu? Dia menekuk kedua alisnya, menatap yunho dengan sebal “appa dengan umma sama saja, menyebalkan!” ucapnya kemudian pergi sambil menghentak-hentak kan kedua kaki nya.

“Lihat dia marah karena ulahmu?”
jaejung berkata saat dia sudah berada di depan yunho. Dia perbaiki sebentar dasi serta pakaian sang suami untuk sedikit merapihkan nya.

Yunho tersenyum “hmm, tapi dia lucu jika sedang marah”

“cepat susul dia, aku tidak mau ryewook semakin marah karena menunggu mu.”

Namja itu mengangguk dan,
Chup…

Dia mencium bibir jaejung kilat, untuk sekedar memberinya semangat bekerja “baiklah..” dan kemudian berlari kecil menuju halaman rumah di mana sang putri sudah menunggu nya disana. Jaejung melambaikan tangan dengan senangnya “Hati-hati dijalan”

“Dia kenapa?”

“Gadis aneh!”

“Gila mungkin!”

“Kasihan sekali,”

Beberapa komentar iba dan pedas terlontar dengan tidak enak dari beberapa mulut orang-orang yang melintas di hadapan seorang gadis kecil berseragam merah. Gadis yang saat ini tengah berdiri mematung dengan kedua tangan mencekram erat ujung rok sepahanya. wajahnya tertunduk dan matanya tertuju pada satu kaki yang tengah memain-mainkan sebuah batu kecil serta mulutnya yang sesekali bergumam menyebutkan nama seseorang.

Gadis itu sekarang tengah berada di sebuah ujung jalan perumahan sederhana di kota mokpo. Iyah, tempat dia di lahirkan sekarang ini.

terkesan cuek memang, bahkan lebih ke tidak peduli pada semua pasang mata yang menatap nya dengan tajam. Dia? Hanya ingin seperti itu, namun di dasar hati nya yang paling dalam gadis itu memiliki sebuah keinginan besar, keinginan dimana sang umma hidup kembali? Tap, itu? Mungkin mustahil.

sampai,

“Oh! maafkan aku sudah membuatmu menunggu lama,” sebuah suara mengagetkan gadis itu. Donghae mendongkak untuk melihat siapa? Yang mengagetkan nya, dan tepat tidak salah lagi dia? Kim halmoni, seorang nenek baik hati yang sangat menyayangi donghae sudah berdiri dengan sebuah senyuman tulus di hadapanya.

“kajja berangkat?” ajaknya sambil menggenggam dengan sayang tangan donghae, dan dia? Hanya mengangguk mengiyakan.

Di perjalanan yang tidak memakan waktu cukup banyak, tidak terdengar sebuah percakapan. mungkin karena donghae yang sedari tadi terdiam dan hanya menikmati udara pagi mokpo yang cukup segar, sedang kim halmoni berceloteh tentang kenapa dia memasukan donghae kesekolah itu.

“aku dengar, sekolah itu adalah sekolah terbaik di kota ini,”

“jinja?”

“hmm, dan aku sengaja memasukan mu kesana”

sesaat donghae tatap wajah kim halmoni dan sedikit memberi nya sebuah senyuman “gomawo halmoni, aku tidak akan mengecewakan mu”

“Hmm, kau belajar yang rajin dan jangan mengecewakan orang-orang yang menyayangi mu!”

“aku berjanji!”

Dan, tibalah mereka disini. Di Sebuah sekolah dasar super elit kota mokpo, banyak yang menyebutnya seperti itu. Sekolah super luas yang hanya di huni anak dari orang-orang beruang. Lantas dari mana donghae memiliki uang banyak untuk masuk ke sekolah ini? Dan jawaban nya sudah pasti dari kim halmoni seorang nenek sebatang kara yang memilik hati dermawan. Iyah dia memang hidup sendiri di mokpo, suami nya sudah lama meninggal dan putri satu satunya mereka sekarang hidup bahagia di luar negri bersama pendamping hidupnya.
“ini untukmu!”

Donghae menatap aneh sebuah kotak bekal besar yang tengah di sodorkan kim halmoni, kotak berwarna biru tua yang sedari tadi di bawa wanita itu.
Gadis kecil itu menggeleng “shin ahjjussi sudah membuatkan nya!”

“ohh, baiklah!” kim halmoni menarik kembali kotak itu, dan tangan nya mengambil beberapa lembar won dari dalam dompetnya. Lembar won yang menurutnya sedikit namun bagi donghae itu sangat lebih dari kata sedikit “simpanlah untuk membeli sesuatu?”

Donghae pandang sesaat uang itu, gadis kecil itu terlihat ragu untuk mengambilnya.
“Gamsahamnida halmoni, aku tidak akan melupakan kebaikanmu” ucapnya di sertai tubuhnya yang beberapa detik kemudian menjauh meninggalkan kim halmoni yang tersenyum sambil melambaikan tangan padanya.

Tidak ada yang menarik, mungkin satu kata itu sekarang berkeliaran di pikiran seorang gadis kecil yang kini tengah duduk di bangku bernomor dua puluh, bangku paling akhir di ruangan itu. Dia terdiam, bosan. memperhatikan teman-teman nya tengah asyik menikmati pelajaran bernyanyi dengan riang nya. Hanya dia? Yang terlihat murung, hanya dia? Yang terlihat tidak mengelurkan suaranya, dan hanya dia satu-satunya murid yang termenung dengan satu tangan menumpu dagunya. Jika ada yang menanyakan gadis itu tidak suka bernyanyi? Mungkin jawaban nya salah. Dia sangat suka bernyanyi sangaat! bahkan dulu dia mengatakan ingin bercita-cita menjadi seorang penyanyi dan seorang dancer terbaik. Benarkah? Lantas kenapa dia menyia-nyiakan pelajaran menyanyi ini? Entahlah wajahnya tidak terbaca.

Menitpun semakin berlalu, dimana sudah menunjukan waktu jam istirahat itu tandanya kelas menyanyi usai. Donghae gadis kecil berpita biru itu, menghela napas bosan. Memang baru beberapa jam dia di sekolah ini namun belum nampak seorang temanpun yang ingin berkenalan dengan nya bahkan sekedar mendekati dirinya tidak ada. Apa ada yang salah dengan donghae? Penampilan nya ? Dia rasa tidak, bahkan penampilan dia sekarang hampir sama dengan anak-anak yang lain nya.

Suara riuh kini mulai terdengar, anak-anak di ruangan itu sebagian ada yang keluar untuk menikmati makanan di kantin sekolah, dan sebagian lagi ada yang masih di dalam berkumpul saling memamerkan isi kotak bekal yang mereka bawa. Lihatlah bahkan anak-anak yang lain sudah terlihat akrab.

Lagi-lagi donghae menghela nafas bosan, dia mengeluarkan kotak bekal sederhana nya dengan malas. kotak kecil putih tanpa warna, bahkan di dalam kotak itupun donghae tau isinya makanan yang sama sederhana nya dengan tampilan kotak itu.

Donghae bangkit dari duduknya, sedikit berpikir mungkin makan di luar bukan ide yang buruk.

Namun,

Baru saja kaki mungilnya itu maju beberapa langkah, seseorang secara tidak sengaja menabraknya dari belakang membuat kotak makanan yang tengah donghae pegang terjatuh dan isinyapun berhamburan keluar.

“maaf, aku tidak sengaja!” ucapnya dingin lalu berlalu pergi meninggalkan donghae yang menatapnya tidak percaya. Bukan hanya gadis itu bahkan semua anak di dalam ruangan kelas yang tiba-tiba menjadi sunyi itu melihat kearah dia? Mereka mengaga, terdiam membisu melihat donghae yang berdiri mematung memperhatikan makanan nya yang sudah tidak layak itu.

“Lihat.. Itu menjijikan!!” ucap salah satu anak berwajah putih pucat, badan nya kecil tinggi bahkan lebih tinggi dari donghae, kini tengah berdiri di antara sekumpulan teman-temannya. Satu tangan gadis itu menjulur, menunjuk kearah makanan kotor di lantai sana.

Donghae terdiam menatap tajam kearah gadis yang berbicara tadi, memang sebelumnya donghae tengah berjongkok untuk memasukan makanan kotor itu kedalam kotak nya lagi hanya sekedar membersihkan agar lantai ruang kelas itu tidak terlalu kotor karena makanan nya, namun tanpa di duga seorang gadis sengak berkata dengan sangat pedas, dan bahkan sekarang teman-temannya yang lain melakukan hal sama. Mereka berdiri memandangi donghae layaknya sesuatu hal yang menjijikan.

”iyah benar! bagaimana bisa dia membawa makanan sampah itu ke sekolah ini?” ucapnya lagi, kali ini giliran si rambut lurus yang berbicara, rambut yang sudah di penuhi dengan berbagai macam? Pita di kepalanya.

Donghae masih terdiam, Mencoba sabar untuk kali ini, memang seperti inikah rasanya sekolah di tempat elit? Dia kembali meneruskan pekerjaan nya Membersihkan lantai itu.

“hey cepat bersihkan!”

“iyah, aku mual melihatnya!”

”Gadis bodoh, kau telah membuat ruangan kelas ini kotor karena makanan sampah itu!”

“DASAR ANAK TANPA APPA!” suara terakhir sukses membuat donghae kembali menghentikan aktivitasnya bahkan seluruh anak anak di ruangan itu kini beralih melihat kearah seorang namja yang tengah berdecak pinggang dengan angkuh.

“WMO ANAK TANPA APPA?” ucap mereka serentak, terlihat tidak percaya. Namja cilik itu mengangguk memberi jawaban sambil tersenyum meremehkan dan sukses membuat donghae geram setengah mati.

“kau tau dari mana?”

“aku bertetangga dengan nya. Ahh tidak, bahkan aku tidak mau di bilang tetangga gadis itu. Rumahnya terlalu kecil untuk ukuran tetanggaku!” ujarnya berbangga diri lihatlah? Apakah ini kehidupan sebenarnya, namja itu? Dia masih terlalu kecil tapi sudah sombong setinggi langit. “ibunya baru saja meninggal” Namja cilik itu berjalan mendekati donghae yang tengah berjongkok sambil memandanginya “dan dia tidak memiliki appa!” lanjutnya di sertai gelak tawa, dan suara sambutan dari anak-anak lain yang mengolok-ngolok donghae.

Gadis itu geram, dia berdiri menatap namja cilik yang sedang tertawa itu dengan tatapan tajam penuh emosi. tanpa pikir panjang donghae menarik dengan kasar kerah baju anak itu membuat sang anak takut dengan sikap donghae yang tiba-tiba, dia dorong sekuat tenaga badan namja itu sehingga membuat tubuhnya terjengkang dan kepala bagian belakangnya terbentur sudut meja dan alhasil membuat anak-anak di ruang kelas itu syok dengan sikap donghae yang seperti itu.

tidak ada yang berani membantu namja yang kini terlihat tengah menahan sakit di kepalanya itu untuk berdiri, mereka
semua terdiam masih tidak percaya terlebih saat darah segar dengan hitungan detik sudah melumuri kemeja putih sang namja itu.

Sampai,

“oh tuhan ada apa ini?”

TBC?
Kibumnya belum muncul ya? hehe, sengaja dia blum mau katanya masih betah nemenin aku akkk~

Advertisements

2 comments on “FF | Firts Love | Super Junior | Gs | Chapter 1

  1. Kihaelov says:

    kereeeen ini mana lanjutan nya penasaraan nihh :3 kangen ff kihaeee yang sudah langka hiks T.T

    Like

  2. iya langka 😦 terimkasih udah baca.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s